PAPMA "KASIH"
Perkumpulan Pengajaran Mempelai Alkitabiah "Kasih"
Register    
slide1
slide2
slide3

Sep
26

Batu Hidup, Batu Penolong

Batu Hidup, Batu Penolong
Uncategorized

Ayat pokok     : 1 Petrus 2:3-4, 6-7

Eben-Haezer berasal dari bahasa Ibrani: Even-Ezer, yang artinya adalah batu penolong. Eben-Haezer dalam 1 Samuel 7:12 merupakan pengganti dari kota Eben-Haezer yang telah gagal (1 Samuel 4) di mana tabut Allah dirampas, menderita kekalahan dalam peperangan, dan telah terjadi ikabod (= kemuliaan Allah telah lenyap dari Israel).

Tuhan Yesus adalah Batu hidup yang telah dilempar atau dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Karena Dia adalah Batu yang hidup, maka Dia pun adalah Batu penolong kita.

Menurut peraturan Taurat, setiap orang yang yang didapati berbuat zinah harus dilempari batu sampai mati. Dalam Yohanes 8:4-7 ada seorang perempuan yang berbuat zinah dan dihadapkan oleh orang-orang Yahudi kepada Yesus. Namun Tuhan tidak melemparinya dengan batu, melainkan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Dan tidak ada yang berani melempar, karena mereka semua merasa sebagai orang berdosa, yang seharusnya juga dilempari dengan batu. Tetapi pada ayat 59 kemudian dikatakan bahwa orang-orang Yahudi justru hendak melempari Yesus dengan batu, padahal Ia sama sekali tidak ada dosa. Karena belum tiba waktu-Nya, maka Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Di dalam kehidupan kita, saat mengalami pencobaan seringkali menyalahkan Tuhan, ibaratnya seperti melempari Dia dengan batu sehingga Dia meninggalkan Bait Allah. Berada di dalam Bait Allah namun tanpa ada Yesus di dalamnya, semuanya akan menjadi sia-sia dan kita tidak akan mengalami pertolongan Tuhan. Hendaknya kita selalu bersyukur dan berkata bahwa Tuhan itu baik di dalam segala keadaan, supaya Ia senantiasa berada di dalam Bait-Nya dan bersedia menolong kita.

Pada Yohanes 10:20-21, sekali lagi Tuhan Yesus hendak dilempari dengan batu ketika di Yudea Ia berkata bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Walaupun demikian, Tuhan Yesus tetap mau mengambil resiko kembali ke sana untuk menolong keluarga Lazarus (pasal 11:6-8). Ini adalah bukti, bahwa untuk menolong kita, Tuhan Yesus rela dilempari batu atau dihukum mati. Ia rela menanggung kutuk hukum Taurat bagi kita (Galatia 3:13).

Ketika saatnya telah tiba, Tuhan Yesus tidak lagi menghindar saat hendak dilempari batu. Dalam Lukas 22:39-44, Ia mengajak murid-murid-Nya ke taman Getsemani untuk berdoa, supaya mereka jangan jatuh ke dalam pencobaan. Seolah-olah mengandung pilihan: berdoa atau jatuh ke dalam pencobaan. Dengan kata lain, pencobaan bisa datang bila kita tidak berdoa. Dan jika kita mengalami pencobaan, berdoalah! Lalu Yesus mengambil posisi ‘sepelempar batu’ untuk berlutut dan berdoa, untuk menjadi batu penolong bagi kita: mengampuni dosa, menyembuhkan yang sakit, dan sebagainya. Apa yang dilakukan Yesus ini biarlah menjadi teladan bagi kita supaya bila kita menginginkan pertolongan Tuhan, hendaknya kita berlutut dan berdoa kepada Bapa pada jam-jam saat Yesus disalibkan, yaitu jam 9, 12, dan 3.

Menurut Injil Markus 14:33-36, dikatakan bahwa Tuhan Yesus merebahkan diri-Nya ke tanah dan berdoa, bagaikan batu yang telah dilempar dan jatuh (mengambil posisi ‘sepelempar batu’). Kemudian Ia berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu ... tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Mari saudara, Yesus telah memberikan contoh kepada kita. Dalam berdoa pun, janganlah kita memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, namun biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. Menghadapi segala permasalahan, kesedihan, dan sebagainya, serahkanlah kepada Batu Penolong, disertai dengan percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Eben-Haezer!  szk



Post a comment