PAPMA "KASIH"
Perkumpulan Pengajaran Mempelai Alkitabiah "Kasih"
Register    
slide1
slide2
slide3
slide4

Apr
20

Jangan Berubah Setia

Jangan Berubah Setia
Uncategorized
"Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” 1 Petrus 4:17-18

Di akhir zaman ini, Tuhan akan mengadakan penghakiman kepada seluruh manusia. Namun penghakiman itu akan dimulai dari dalam rumah Allah. Sebenarnya rumah Allah adalah tempat Allah berhadirat, namun kepada setiap orang yang berada di dalam bait Allah, jika tidak memiliki tanda salib Yesus dan melakukan perbuatan dosa, maka akan lebih dulu dihakimi Allah. Dapat kita baca dalam Yehezkiel 9:3-6, "Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang mempunyai alat penulis di sisinya. Firman TUHAN kepadanya: "Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana." Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: "Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!" Lalu mereka mulai  dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci.”

Jika kita mau tetap bertahan dan setia sekalipun karena berbuat baik kita harus menderita, itu merupakan kasih karunia Allah. Sebagaimana 1 Petrus 2:19-21 mengatakan, "Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”

Kita harus tetap setia dan jangan sampai berubah setia terhadap Tuhan, sekalipun kita mengalami penderitaan karena berbuat baik. Karena setiap orang yang berubah setia kepada Tuhan, maka ada malapetaka yang akan menimpa, pedang, kelaparan, sampar dan binatang buas. Ada tiga contoh orang yang yang tetap setia terhadap Tuhan sekalipun harus menghadapi banyak penderitaan dan kesukaran. Kita baca dalam Yehezkiel 14:12-21 "Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: "Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepada-Ku dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tangan-Ku melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Atau jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorang pun berani melintasinya karena binatang buas itu, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan, tetapi hanya mereka sendiri akan diselamatkan. Atau jikalau Aku mendatangkan sampar atas negeri itu dan Aku mencurahkan amarah-Ku atasnya sehingga darah mengalir dengan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang,dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka. Ya, beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauh lebih dari itu, kalau Aku mendatangkan keempat hukuman-Ku yang berat-berat, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar, atas Yerusalem untuk melenyapkan dari padanya manusia dan binatang!”

Nuh, dia tetap setia dalam melakukan perintah Tuhan sekalipun dia harus mengerjakan pekerjaan yang tidak mudah baginya, yaitu membuat bahtera. Karena kesetiaannya dalam melakukan perintah Tuhan, pada akhirnya dia selamat dari air bah yang melanda bumi. Kejadian 6:22 menyebutkan, "Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” Kesetiaan Nuh dalam melakukan Firman ini, menunjuk pada Meja Roti dalam ruangan suci di Tabernakel.

Ayub, dia juga membuktikan kesetiaannya dalam hidupnya yang saleh dan jujur bahkan takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Bahkan dia tetap setia sekalipun harus mengalami penderitaan pada tubuhnya hingga segala yang dia punyai hilang. Ayub 1:1 mengatakan, "Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Bahkan dalam segala penderitaannya, Ayub tidak menyalahkan Tuhan, dengan demikian dia tidak berdosa dengan perkataannya. Ditulis dalam Ayub 1:21-22, "katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. Bahkan sampai ketika isterinya menyuruh dia mengutuki Allah karena segala penderitaannya, dia tetap bertahan dan membuktikan kesetiaannya. Dapat kita baca dalam Ayub 2:8-10, "lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” Kesetiaan Ayub dalam penderitaan ini menunjuk pada Pelita Emas dalam ruangan suci di Tabernakel. Kita tahu bahwa untuk membuat Pelita Emas, maka emas itu harus ditempa bagaikan mengalami penderitaan. Kita harus tetap setia, tetap bertahan sekalipun kita sudah hidup takut akan Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan.

Daniel juga membuktikan kesetiaannya, ketika ada peraturan tidak boleh berdoa kepada Allah. Sekalipun harus menghadapi ancaman dimasukkan ke dalam gua singa, dia tidak menjadi takut dan berubah setia terhadap Tuhan. Dia tetap berdoa tiga kali sehari sebagaimana yang sudah biasa dilakukannya. Daniel 6:8-11 menulis, "Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa. Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu. Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” Pada akhirnya, karena kesetiaannya Daniel selamat dari mulut singa. Tuhan menyelamatkan dia seperti ditulis dalam Daniel 6:20-24, "Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.” Kesetiaan Daniel dalam doanya ini menunjuk kepada Mezbah Dupa pada ruangan suci di Tabernakel.

Marilah kita tetap setia! Jangan berubah setia sekalipun untuk membuktikan kesetiaan kita harus mengalami banyak penderitaan. Kita tahu bahwa jika kita tetap setia maka Tuhan pasti mengaruniakan keselamatan bagi kita. Bahkan kita akan lolos dari maut yang akan mengancam seluruh bumi. Haleluya!




Post a comment