PAPMA "KASIH"
Perkumpulan Pengajaran Mempelai Alkitabiah "Kasih"
Register    
slide1
slide2
slide3
slide4

Apr
20

Hidup dalam Kasih Karunia

Hidup dalam Kasih Karunia
Uncategorized


"Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 19:16-23

Pertanyaan dari seorang yang datang kepada Yesus pada kisah di atas, tentang perbuatan baik apakah yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup kekal, jika kita hubungkan dengan Yohanes 3:5, 7 adalah mengalami kelahiran baru. Pada kisah di atas dapat kita lihat bahwa Yesus pun menjawab, bahwa harus menurut perintah Allah; jangan membunuh, jangan berzinah dan seterusnya, bahkan harus mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Orang itu merasa bangga karena dia merasa sudah melakukan semua hukum Taurat tersebut. Namun melakukan hukum Taurat tidak menjadikan seseorang mengalami kelahiran baru. Yesus menghendaki sekarang untuk melakukan hukum kasih, mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Sebagaimana dalam Matius 22:36-40 dikatakan, "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Karena Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat seperti ditulis dalam Roma 3:20, "Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Orang yang melakukan hukum Taurat, melakukan bukan karena kasih tetapi karena ada ancaman kutuk kepada orang yang tidak melakukannya. Galatia 3:10-11 mengatakan, "Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Bahkan jika hanya melakukan hukum Taurat dan tidak mengalami kelahiran baru, tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Hal ini secara tegas ditulis dalam Matius 5:20, "Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Ayat ini jika kita lihat dalam terjemahan lama berkata, "Karena Aku berkata kepadamu: Jikalau tiada kebenaranmu terlebih daripada kebenaran segala ahli Taurat dan orang Parisi, sekali-kali tiada dapat kamu masuk ke dalam kerajaan surga.”

Firman Tuhan juga mengatakan jika kita hanya melakukan hukum Taurat, kita hidup di luar kasih karunia Tuhan, dan kita terpisah dari Kristus. Hal ini sebagaimana tertulis dalam Galatia 5:4, "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” Tetapi jika kita hidup dalam kasih karunia Yesus, kita diubah menjadi ciptaan baru. Hidup yang lama yang hanya bangga karena melakukan hukum Taurat sudah berlalu, kini yang baru yaitu hidup dalam kasih karunia sudah datang. Surat 2 Korintus 5:17 mengatakan, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Jika kita hubungkan dengan Tabernakel, halaman membayangkan kehidupan lama, sebagaimana alat-alat yang ada di situ dibuat dari tembaga. Tembaga mempunyai pengertian hukum. Berbeda dengan yang ada di ruangan suci, semua alat di sana dibuat dari emas. Emas mempunyai pengertian kasih karunia.

Berbeda dengan hukum Taurat, di mana tidak ada kesempatan bertobat bagi orang yang melanggarnya selain harus dihukum, tetapi hidup di dalam kasih karunia, Tuhan bersabar dan memberi kesempatan untuk kita bertobat supaya kita tidak binasa. Ditulis dalam 2 Petrus 3:9-11, 15, "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup … Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, …”

Oleh kasih karunia-Nya, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan kelak kita menjadi sama seperti Dia sebagaimana surat 1 Yohanes 3:1-2 mengatakan, "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Untuk itu sekali lagi kita harus perhatikan, bahwa untuk menjadi sama seperti Dia, kita harus mengalami kelahiran baru.

Syukur kepada Tuhan, karena sekarang kita beroleh kasih karunia. Dia tidak langsung menghukum karena dosa kita, tetapi Dia bersabar dan memberi kesempatan kita bertobat. Dan kita diangkat menjadi anak-anak Allah yang kelak menjadi sama seperti Dia sebagai mempelai perempuan-Nya. Haleluya!



Post a comment