PAPMA "KASIH"
Perkumpulan Pengajaran Mempelai Alkitabiah "Kasih"
Register    
slide1
slide2
slide3

Agu
18

Tuhan Mengubah Kutuk Menjadi Berkat

Tuhan Mengubah Kutuk Menjadi Berkat
Uncategorized
Tuhan kita adalah Tuhan yang ajaib. Nyata dalam perbuatan-Nya baik dulu, sekarang dan untuk selamanya.  Sebagai contoh perbuatan ajaib Tuhan adalah Dia telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Bahkan dituntun-Nya bangsa Israel melewati laut Teberau dengan ajaib.  Bagi kita sekarang pun kuasa pertolongan Tuhan yang ajaib tidaklah berubah. Tuhan tetap mau menolong kita untuk seterusnya.

Dalam Keluaran 15:22-26 diceritakan bahwa setelah menyeberangi laut Teberau, bangsa Israel kemudian berjalan selama tiga hari di padang gurun Syur tanpa mendapatkan air. Mereka akhirnya tiba di Mara dalam keadaan yang lelah dan sangat kehausan, ditambah lagi air yang terdapat di situ tidak dapat diminum karena rasanya pahit. Mereka menjadi marah dan bersungut-sungut kepada Musa sebagai pemimpin mereka. Musa dalam menghadapi persungutan bangsa Israel berseru-seru kepada Tuhan. Kemudian Tuhan menunjukkan sepotong kayu dan Musa melemparkannya kepada dalam air yang pahit. Terjadilah mujizat, air yang pahit berubah menjadi manis.

Pengertian "air pahit” dapat kita lihat dalam Bilangan 5:11-31. Pada ayat 11-14 dituliskan tentang permasalahan yang bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam kehidupan nikah. Yaitu dengan adanya seorang suami yang mencurigai isterinya telah berbuat serong dengan laki-laki lain yang mengakibatkan sang suami dikuasai roh cemburu. Menghadapi permasalahan nikah seperti ini, ayat 15-16 menuliskan bahwa suami itu harus memperhadapkan isterinya kepada imam dengan membawa korban sajian cemburuan berupa sepersepuluh efa tepung jelai yang tidak dituangi minyak dan tidak dibubuhi kemenyan. Dalam Keluaran 16:36 kita tahu bahwa ukuran sepersepuluh efa sama dengan ukuran segomer, yaitu jatah manna untuk satu orang dalam sehari.

Setelah menghadap imam, maka si isteri dibawa kepada Tuhan supaya Tuhan sendiri yang memutuskan apakah benar dia telah mencemarkan dirinya dengan berbuat serong dengan laki-laki lain atau tidak. Selanjutnya dalam ayat 18-24 dituliskan bahwa oleh imam, rambut si isteri harus diuraikan. Rambut merupakan kemuliaan bagi perempuan. Ini artinya saat menghadap Tuhan harus menanggalkan kemuliaan diri sendiri, menghadap Tuhan dengan tulus dan apa adanya.

Imam harus meletakkan korban sajian cemburuan ke atas tangan si isteri, sedangkan di tangan imam harus ada "air pahit” yang mendatangkan kutuk. Lalu imam harus menyumpahi perempuan tersebut dan perempuan itu berkata "amin, amin”. Selanjutnya perempuan itu harus meminum air pahit yang ada di tangan imam. Jika ternyata dia tidak berbuat serong, maka bebaslah dia dari kutuk. Tetapi jika ternyata benar telah berbuat serong, maka pasti terkena kutuk; pahanya mengempis dan perutnya mengembung. Inilah peraturan mengenai perkara cemburuan antara seorang suami dan isterinya bagi bangsa Israel.

Pengertian rohani yang bisa kita dapatkan adalah sebagaimana Hosea 2:5, 18-19 mengatakan bahwa Tuhan mau menjadikan kita sebagai isteri-Nya sehingga kita dapat memanggil Dia "Suamiku”.  Jika Tuhan adalah Suami, maka kita sebagai isteri-Nya haruslah mengasihi dan setia kepada-Nya. Janganlah menjadi isteri yang berbuat serong dengan menyembah berhala yang membangkitkan cemburu Tuhan.

Kita dapat membaca tentang larangan menyembah berhala dalam Keluaran 2:5 dan Keluaran 34:14-17. Tuhan adalah Allah yang cemburu jika kita menyembah berhala. Bahkan Tuhan melarang bangsa Israel mengadakan perjanjian atau bergaul dengan bangsa-bangsa kafir ataupun menikahkan anak-anak mereka dengan anak-anak dari bangsa kafir.

Dalam Mazmur 78:56-58 dituliskan betapa penyembahan berhala itu menyakitkan hati Tuhan bahkan membangkitkan cemburu Tuhan, sehingga bangsa Israel diancam dengan kutuk. Jadi kita dapat mengerti sekarang bahwa adanya air pahit atau kutuk itu adalah akibat dari ketidaksetiaan jemaat sebagai isteri terhadap Tuhan yang adalah Suami.

Lebih jauh mengenai ketidaksetiaan isteri terhadap suami, dalam Yeremia 3:20 disebutkan: "Tetapi sesungguhnya, seperti seorang isteri tidak setia terhadap temannya (suaminya), demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan.” Sebenarnya bangsa Israel diakui Tuhan sebagai isteri,  namun sayang sekali sebagai isteri yang tidak setia sehingga membangkitkan cemburu Tuhan. Jika kita perhatikan istilah "cemburu”, merupakan perasaan yang ada dalam hubungan kasih suami dan isteri. Tuhan merasa cemburu karena Tuhan mengasihi bangsa Israel. Hal ini merupakan suatu yang perlu kita perhatikan, Tuhan mengasihi kita bahkan mau menjadikan kita sebagai isteri-Nya. Seharusnyalah kita juga mengasihi Tuhan dengan setia. Setia itu dibuktikan pada saat senang ataupun susah. Di saat kita harus menyangkal diri dan memikul salib dalam pengikutan kita kepada Tuhan, kita tetap setia. Ini merupakan ujian kasih kita kepada Tuhan.

Contoh isteri yang tidak setia kepada suaminya dapat kita lihat dalam Yeremia 3:6-11. Israel dan Yehuda yang diakui Tuhan sebagai isteri-Nya tidak setia dengan naik ke setiap bukit yang menjulang dan ke bawah setiap pohon rimbun untuk menyembah berhala. Sehingga akhirnya Israel diceraikan oleh Tuhan. Melihat perbuatan Israel yang menyembah berhala tidak membuat Yehuda takut, malah turut menyembah patung dan kayu.

Baik kepada Israel maupun Yehuda, Tuhan memberikan kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, bertobat dari penyembahan berhala mereka. Tetapi Israel tidak mau kembali kepada Tuhan dan Yehuda mau kembali namun tidak dengan setulus hati. Hal ini membuat Yehuda di mata Tuhan lebih buruk dari Israel.

Dalam Yesaya 54:5-8, isteri yang tidak setia harus meminum air pahit. Digambarkan menjadi isteri yang ditinggal oleh suaminya sehingga bersusah hati. Namun Tuhan itu baik. Sebagai Suami, tidak selama-lamanya Tuhan murka dan meninggalkan isteri-Nya. Hanya sesaat Tuhan meninggalkan, tetapi kemudian Tuhan memanggil kembali dengan kasih yang besar dan dalam kasih setia abadi. Tuhan mau mengubah air yang pahit menjadi manis.

Tuhan mau meloloskan kita dari ancaman kutuk. Untuk itu Tuhan mengajarkan dalam Yeremia 3:12-13a, supaya kita mempergunakan kemurahan dan kesempatan yang Tuhan berikan dengan kita mau bertobat dan kembali kepada Tuhan, serta mengakui segala dosa dan pelanggaran kita. Akibatnya, pada ayat 22 menyebutkan, Tuhan akan menyembuhkan kita dari kemurtadan atau ketidaksetiaan sehingga kita benar-benar menjadi isteri-Nya yang setia, dijauhkan dari kutuk (air pahit) dan digantikan dengan hidup penuh kelimpahan berkat (air manis).

Jika kita ingat kembali pada kisah bangsa Israel di Mara, Musa melemparkan "sepotong kayu” ke dalam air yang pahit dan air yang pahit berubah menjadi manis. Untuk melihat pengertian "kayu” yang sanggup melepaskan kita dari kutuk (air pahit) dapat kita baca dalam Bilangan 21:4-9. Karena memberontak melawan Allah dan Musa, bangsa Israel tertimpa kutuk. Padahal sebelumnya mereka sudah menikmati berkat pemeliharaan Tuhan dalam wujud manna setiap hari. Bukannya bersyukur namun sebaliknya justru bersungut-sungut kepada Allah. Akhirnya kutuk menimpa dengan datangnya ular-ular tedung memagut mereka sehingga banyak yang mati.

Setelah tertimpa kutuk, menyesallah bangsa Israel. Mereka kemudian mau bertobat dan mengakui dosa pelanggarannya dengan berkata, "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau …”, serta memohon ampun kepada Tuhan supaya dibebaskan dari kutuk ular tedung tersebut.

Kita lihat betapa murah hati dan baiknya Tuhan,  yang mau mengampuni bangsa Israel setelah mendengar pengakuan dosa mereka. Tuhan melenyapkan kutuk dari tengah-tengah bangsa Israel dengan memerintahkan Musa membuat tiang (dari kayu) dan di atasnya ditaruh ular dari tembaga. Setiap orang yang terpagut ular dan melihat tiang itu tidak mati.

Jika kita cermati peristiwa kutuk ular tedung ini dengan pengalaman bangsa Israel di Mara saat menghadapi air yang pahit, kita lihat cara yang sama dipakai Tuhan untuk melenyapkan kutuk adalah menggunakan "kayu”. Dalam Lukas 23:31 kita lihat ada dua macam kayu dengan pengertian rohani masing-masing. Pertama, disebut sebagai "kayu hidup”, yang menunjuk pada pribadi Yesus. Kedua, disebut sebagai "kayu kering” yang menunjuk pada kemanusiaan kita.

Hanya Yesus sebagai kayu hidup sanggup menanggung kutuk kita dan menggantinya dengan berkat. Tertulis dalam Galatia 3:13, kita telah ditebus dari kutuk hukum Taurat oleh Tuhan Yesus dengan jalan Dia telah rela disalib di kayu salib untuk menanggung kutuk kita. Dalam Galatia 3:10-12 juga dapat kita baca bahwa sebenarnya kita semua berada di bawah bayang-bayang kutuk hukum Taurat.

Sekarang kita tidak hidup lagi di bawah kutuk, dalam Galatia 3:14, 8-9 dikatakan Tuhan melimpahkan berkat Abraham bagi kita. Kita tahu bahwa Abraham adalah pribadi yang sangat diberkati Tuhan sampai menjadi sangat kaya. Bahkan berkat itu juga dilimpahkan bagi kita. Hanya saja perlu kita waspadai jangan sampai setelah menikmati kelimpahkan berkat, kita menjadi seperti Lot yang juga sudah menikmati berkat tapi akhirnya tertarik kepada dunia sampai mereka tinggal di Sodom dan Gomora. Akhirnya Lot mengalami kehancuran baik dalam keluarga maupun harta bendanya.

Marilah kita yang hidup dalam berkat Tuhan, juga mau baik-baik mendengar dan memperhatikan Firman Tuhan serta dengan setia melakukannya seperti tertulis dalam Ulangan 28:1-6. Jangan kita menolak Firman supaya kutuk seperti tertulis pada ayat 15-19 tidak menimpa kita. Amin. mr




Post a comment